animasi-bergerak-bendera-indonesia-0002
Tools services webmasters counters generators scripts tutorials free



animasi-bergerak-halo-0016

Uji Beda 2 Sampel Berpasangan dengan Uji t Berpasangan, Contoh Kasus 1

Pada tulisan ini, diberikan contoh kasus yang akan diselesaikan dengan menggunakan metode uji t berpasangan menggunakan software SPSS. Misalkan akan diuji:

"Apakah Terdapat Perbedaan Berat Badan yang Signifikan, Sebelum dan Sesudah Mengkonsumsi Obat Diet ABCD Selama 1 Minggu?",

"Dengan Kata Lain, Apakah Obat Diet ABCD, Signifikan Dalam Hal Menurunkan Berat Badan?

Diketahui:

=> Data variabel berat badan berjenis numerik atau (ratio).

Data diberikan seperti pada Tabel 1.


animasi-bergerak-burung-0057

Tabel 1 Contoh Data


Bagian 1: Rangkaian Analisis Data

Adapun rangkaian analisis data, sebagai berikut:

1. Deskriptif (mencari minimum, maksimum, rata-rata & standar deviasi).
2. Uji asumsi normalitas untuk data selisih.
3. Uji t berpasangan.


animasi-bergerak-buku-0004


Bagian 2: Menginput Data, Statistik Deskriptif, Uji Asumsi Normalitas & Uji t Berpasangan dalam SPSS

Pada Bagian 2, disajikan video, bagaimana cara menginput data pada Tabel 1 dalam SPSS, statistik deskriptif, uji asumsi normalitas dan uji t berpasangan. Video disajikan berikut ini.


Video: Menginput Data, Statistik Deskriptif, Uji Asumsi Normalitas & Uji t Berpasangan dalam SPSS


animasi-bergerak-panda-0011


Bagian 3: Hasil

Berikut hasil SPSS berdasarkan video pada Bagian 2.


Gambar 1 Hasil SPSS 1 (Deskriptif)



Gambar 2 Hasil SPSS 2 (Uji Asumsi Normalitas pada Data Selisih)




Gambar 3 Hasil SPSS 3 (Uji t Berpasangan)



Bagian 4: Penjelasan Hasil SPSS 1 (Deskriptif)

Berdasarkan hasil SPSS 1, yakni deskriptif, diketahui:

=> Sebelum mengkonsumsi obat diet ABCD, diketahui berat badan minimum adalah 77, sementara berat badan maksimum adalah 85. Rata-rata berat badan, sebelum mengkonsumsi obat diet ABCD adalah 81,1667, dengan standar deviasi 3,60093.

=> Sesudah mengkonsumsi obat diet ABCD selama 1 minggu, diketahui berat badan minimum adalah 74, sementara berat badan maksimum adalah 84. Rata-rata berat badan, sesudah mengkonsumsi obat diet ABCD selama satu minggu adalah 79, dengan standar deviasi 4.


animasi-bergerak-bunga-kembang-0016

Bagian 5: Penjelasan Hasil SPSS 2 (Uji Asumsi Normalitas pada Data Selisih)

Salah satu asumsi yang harus dipenuhi, agar hasil uji signifikansi uji t berpasangan valid, adalah asumsi normalitas, yakni data selisih berasal dari populasi berdistribusi normal. Namun, pada uji t berpasangan, pengujian asumsi normalitas dapat diabaikan (tidak dilakukan), apabila sampel berukuran > 30. Mengapa demikian? Karena, apabila ukuran sampel > 30, berdasarkan Central Limit Theorem, distribusi sampling dari statistik uji t berpasangan akan mendekati normal, meskipun jika populasi tersebut tidak berdistribusi normal. Penjelasan lebih detail terkait hal ini dapat dilihat pada buku yang ditulis oleh Prana Ugiana Gio dan Rezzy Eko Cara yang berjudul "Pedoman Dasar Mengolah Data dengan Program Aplikasi Statistika STATCAL".

"Asumsi normalitas dikenakan pada uji t 2 sampel berpasangan, yakni populasi dari data selisih pasangan pengamatan diasumsikan berdistribusi normal (Andy Field, 2009:326). Pada penggunaan uji t 2 sampel berpasangan, asumsi normalitas dapat diabaikan, apabila jumlah sampel cukup besar (Andy Field, 2009:329). Hal ini karena berdasarkan sifat teorema limit sentral (central limit theorem), ketika jumlah sampel besar (N > 30), maka distribusi sampling dari statistik t akan mendekati normal (Murray R. Spiegel dan Larry J. Stephens, 2008:275-276)."

Namun diketahui, ukuran sampel yang sedang diteliti sebanyak 9 responden, maka pengujian asumsi normalitas perlu dilakukan. Perhatikan hasil SPSS pada bagian 2. Diketahui nilai Asymp. Sig. (2-tailed) adalah 0,787 > tingkat signifikansi 0,05 (atau 5%), maka asumsi normalitas dipenuhi.

animasi-bergerak-burung-0003

Bagian 6: Penjelasan Hasil SPSS 3 (Uji t Berpasangan)

Berdasarkan hasil SPSS bagian 3:

=> Diketahui nilai dari Sig. (2-tailed) adalah 0,021 < tingkat signifikansi 0,05 (atau 5%), maka disimpulkan terdapat perbedaan berat badan yang signifikan, sebelum dan sesudah mengkonsumsi obat diet ABCD selama satu minggu.